Minggu, 08 November 2009

Purawisata Gelar Pentas Wayang



Straight News

YOGYAKARTA (7/11) - Pertunjukan wayang yang berjudul Ramayana kemarin malam digelar di Purawisata, Yogyakarta. Pertunjukan yang berdurasi sekitar 3 jam ini banyak dihadiri wisatawan asing dari mancanegara.

Menurut Andi Zarkasi (25) selaku ketua EO pertunjukan ini mengatakan, “memang disetiap pertunjukan wayang selalu dihadiri turis-turis asing dari luar negeri seperti, india, belgia. Inggris, dan masih banyak lagi.” Pertunjukan wayang ini juga merupakan bagian dari tour paket yang sudah dibeli oleh para turis, tambah Kang Andi, begitu dia sering disapa.

Pertunjukan wayang yang bercerita mengenai perebutan perempuan bernama Shinta oleh dua orang lelaki bernama Rama dan Rahwana ini, cukup membuat para penonton terbelalak. Dengan atraksi-atraksi pertengkaran yang menegangkan dan didukung oleh tata lampu dan tata suara yang bagus semakin menambah menarik suasana. Itu juga yang dikatakan Dwi Resti pemeran tokoh Shinta “ Saya selalu gugup dalam setiap pementasan, walaupun sudah sering tampil tetapi rasa gugup itu selalu muncul.” Pertunjukan ini sangat menarik dan saya memerankan dengan baik, begitu tambah perempuan berambut panjang ini. Hal senada dikatakan Dody Permana pengunjung asal Jakarta, “ Pertunjukan ini cukup memuaskan bagi saya dan saya ingin menontonnya lagi kalau kembali kesini.”

Aga Mandala Nosya (153070355)

Pesta Hiburan Rakyat Resmi Dibuka


Yogyakarta (07/11) - Jogja Fair 2009 resmi dibuka oleh Kepala Dinas Perindustrian, Ir.K.Koesdarto ditandai dengan pemukulan bedug dan letupan kembang api. Berbagai tarian tradisional pun turut memeriahkan acara.

Tahun ini merupakan tahun ketiga Dyandra Promosindo Cabang Jogja bekerjasama dengan Kabare Production menye
lenggarakan Jogja Fair yang digelar di Jogja Expo Center (JEC), mulai tanggal 7 hingga 15 November 2009.

Acara
yang bertemakan Pesta Rakyat Esia ini diikuti lebih dari 150 peserta dari berbagai industri multi produk mulai dari otomotif, celluler, fashion, craft, buku, consumer goods, kuliner, gallery, hingga wahana bermain anak dan paint ball.

"Yang menarik dari Jogja Fair tahun ini, panitia memberikan program untuk pengunjung yaitu berupa penukaran tiket masuk seharga Rp 5.000 dengan minyak goreng 2 liter seharga Rp 10.000 selama persediaannya masih ada", ujar Aldilla Listya Lestari selaku Junior Project Manager.

Selain itu, Jogja Fair 2009 juga mendatangkan band-band ternama seperti Seventeen, Shaggy Dog serta band-band indie Jogja. Menurut Aldilla, tujuan utama diadakannya Jogja Fair yaitu sebagai pesta hiburan rakyat, karena selain rakyat dapat membeli produk dengan harga pameran, rakyat juga dapat menyaksikan berbagai acara yang telah disuguhkan panitia.

Jogja Fair dibuka dari hari Senin - Jumat pukul 12.00 - 21.00, hari Sabtu - Minggu pada pukul 10.00 - 21.00 dengan tiket masuk seharga Rp 5.000. (Desti)

HUT Yogyakarta


This year Yogyakarta celebrates 253th birthday. Celebration of "Jogja Java Carnival" was held along the Malioboro street. Saturday, October 17, 2009. Such activities are held annually. in addition to promoting the city of Yogyakarta as a tourism city-educated these activities to preserve the existing imperial tradition, the Kasultanan Ngayogyakarta.

carnival participants consisted of 25 groups, from platoon core, bergada soldiers, the foreign student community, artists from Iran and Korea, as well barongsai arts groups, began to move from Taman Parkir abu Bakar Ali, and ends at the Alun-Alun Utara. In the North Square of the organizing committee has prepared a stage as a place of honor and the end of the carnival.

Participants carnival attractions last show before the Governor of Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X, Yogyakarta Mayor Herry Zudianto, Deputy Mayor of Yogyakarta Haryadi Suyuti, and a number of officers within the City Government of Yogyakarta which comes with wearing "surjan"(Javanese traditional clothes for men) or "kebaya" for women.

RDK (153070134)

Jumat, 06 November 2009

Festival Malioboro Suguhkan Beragam Kesenian


Sebanyak 19 kelompok seniman memeriahkan karnaval pembukaan Festival Malioboro 2009, Jumat (6/11) di sepanjang Jalan Malioboro. Ada parade prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, lengkap dengan senjata dan iringan musik tradisional. Ada pula sejumlah kesenian tradisional lokal seperti kuda lumping, jatilan, dan wayang angguk.


Festival ini dibuka oleh Wakil Gubernur DIY Pakualam IX dan akan berakhir Minggu (8/11). Sejumlah acara menarik telah disiapkan antara lain, festival makanan di Benteng Vredeburg, open house Gedung Agung, dan panggung Merah Putih.


Ketua Panitia, Drs. Wahyudi mengatakan tujuan kegiatan ini secara perlahan untuk menghidupkan kembali Malioboro sebagai kawasan pedestrian."Melalui karnaval ini kita coba hidupkan kembali Malioboro sebagai kawasan pejalan kaki yang nyaman. Selain itu, kami juga berharap bisa menjadi ikon pariwisata internasional tak hanya nusantara",ungkapnya.


Sebagai pusat perhatian wisatawan yang datang ke Yogyakarta, Festival Malioboro menyuguhkan cerita menarik dan kekhasan setiap sudutnya. Bahkan, Malioboro juga pernah menjadi tempat pengembaraan seniman, warung lesehan, masyarakat kawasan heritage dan wisata belanja.


Para pengunjung mengaku senang dan terhibur dengan Festival Malioboro. Mereka berharap agenda budaya seperti ini lebih sering ditampilkan di kawasan tersohor di Yogyakarta itu. Acara yang baru pertama kali digelar ini rencananya akan selalu rutin digelar setiap tahun.


Kartiko Wulantomo (153070313)

Kamis, 05 November 2009

A tribute to the jogja jogja city anniversary , “JOGJA JAVA CARNIVAL” takes viewers to seeing all of cultural beauty jogja. Thousands of carnival participants consisted of 25 groups, from pleton inti, prajurit bergada, the foreign student community, artists from Iran and Korea to barongsai arts groups, began to move from Park Parking Abu Bakar Ali, and ends at the Alun Alun Utara.


JOGJA 17/10 (Floopynews)Sebagai Penghormatan kepada Ulang Tahun Kota Jogja, Jogja Java Carnival mengajak penonton untuk menikmati segala keindahan budaya Jogja. Ribuan peserta karnaval yang terdiri dari 25 grup, dari pleton inti, prajurit bergada, komunitas mahasiswa asing, seniman dari Korea dan Iran, sampai komunitas barongsai, bergerak dari Lapangan Parkir Abubakar Ali dan berakhir di Alun Alun Utara.

Sepanjang jalan ribuan warga masyarakat berdesak-desakan di belakang barikade petugas keamanan agar bisa mendapatkan tempat paling strategis untuk menyaksikan beragam pertunjukan kesenian dalam karnaval tersebut. Janji panitia untuk menutup Jalan Malioboro hingga Alun-alun Utara, dan memasang barikade petugas di sekitar titik nol kilometer dekat kantor Pos Besar pada pukul 18.00 WIB tidak terlaksana. Akibatnya, arus lalu lintas kendaraan terlihat semrawut karena banyak kendaraan yang terjebak di kawasan itu.

Agus, salah satu pengunjung yang datang bersama keluarganya mengatakan bahwa Jogja Java Carnaval bisa menjadi salah satu daya tarik wisata jika dikelola dengan baik dan dia berharap jika event ini rutin diadakan selama 1 tahun sekali.

Sebagai penutupan, peserta karnaval menampilkan atraksinya di hadapan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, Wakil Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti, dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta yang hadir dengan mengenakan “surjan” (pakaian adat jawa untuk pria) maupun kebaya untuk wanita. (BERTHA)

Rabu, 04 November 2009

JPC (Jogja Pitung Club)

(Jogja 18/10) Dari sekian banyak komunitas motor yang ada di Jogja, terdapat satu yang memiliki nama cukup unik, yaitu JPC (Jogja Pitung Club). JPC sendiri merupakan klub motor Honda C-70. Motor ini dapat dikategorikan sebagai motor bebek yang cukup tua.

Dengan anggota aktif lebih dari 100, JPC memiliki kegiatan rutin jambore nasional antar club C-70 lainnya di luar daerah Jogja. Walaupun motornya bisa dianggap uzur, namun jangan tanya kemampuannya. Bahkan touring bersama kerap dilakukan dan menjadi kegiatan andalan komunitas ini. “Kami pernah touring sampai Lombok dan Lampung.” Ungkap salah seorang senior dan pendiri JPC. Melanglang buana dengan motor pitung bagi anggota JPC merupakan hobi yang mengasyikan. Lucas yang telah bergabung sejak tahun 2000 mengungkapkan bahwa touring menggunakan motor pitung ini sudah menjadi bagian dari aktivitasnya yang menyenangkan. Kegiatan lain JPC yang telah berganti nama tiga kali sejak dibentuk tahun 1996 ini adalah bakti social, seperti yang dilakukan JPC sewaktu gempa menggoyang Jogja lebih dari 3 tahun lalu. Untuk saat ini, JPC sedang sibuk mengikuti jambore nasional antar club Honda C-70 lainnya di Bandung. Selain acara-acaranya, JPC memiliki ciri khas lain. Bukan namanya komunitas motor kalau tidak ada modifikasi yang unik dan khas. Dan JPC memiliki kekhasan berupa mark-up pitung menjadi motor trail.

Komunitas klub motor ini kerap nongkrong pada malam Kamis dan malam Minggu di depan Gedung Agung Jogja. klub ini sangat terbuka bagi masyarakat umum, bagi yang ingin bergabung maupun bagi yang hanya inigin berbagi informasi. "Jika ingin mengobrol tentang motor pitung atau saling tukar informasi dengan para anggota bisa datang berkumpul di depan gedung Agung tiap malam Minggu di sini," ujar Rifky salah seorang anggota JPC yang seorang mahasiswa.

Kartiko Wulantomo (153070313)

Feature News : Andongku Hidupku

Pria beruban dan berwajah keriput itu setia menunggu penumpang di depan Toko Ramai, Malioboro. Entah sampai kapan dia menunggu. Tidak peduli panas menyengat kulit atau hujan deras mengguyur.


Gito Suryo Pranoto atau yang biasa disapa Pak Gito sudah menghabiskan 44 tahun hidupnya sebagai seorang kusir andong untuk menghidupi keluarganya. Dari jam sembilan pagi hingga jam empat sore, pria beranak dua itu menanti calon penumpang yang semakin sedikit jumlahnya dari tahun ke tahun. Menurutnya hal ini disebabkan oleh makin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di kota Yogyakarta ini, tidak seperti dahulu waktu kendaraan bermotor masih ibarat barang mewah, andong Pak Gito masih banyak diminati masyarakat. Oleh karena itu Pak Gito sekarang hanya mangkal di kawasan Malioboro. Padahal dahulu pria yang setia memakai blangkon ini juga sempat mangkal di terminal Umbulharjo ataupun stasiun Lempuyangan. "Sekarang jaman sudah maju, banyak kendaraan bermotor di mana-mana, jadi saya lebih milih di sini terus saja", ujarnya sambil menghisap rokok,

Menurutnya banyak sekali tantangan menjadi kusir andong. Pagi-pagi sekali pria berdomisili di Kota Bantul ini harus bangun untuk menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari memberi makan sampai memandikan kuda. Perjalanan dari rumah Pak Gito sampai Malioboro membutuhkan waktu sekitar dua jam. Sesampai di sana pria berumur 65 tahun kebanyakan hanya menghabiskan waktu untuk duduk di andongnya sambil menghisap rokok. Jarang sekali masyarakat yang mau naik andongnya. Rata-rata pria murah senyum ini hanya mendapat dua penumpang dalam sehari. Akibatnya penghasilan Pak Gito sehari rata-rata hanya Rp. 40.000 rupiah. Namun untuk hari libur bisa mencapai Rp. 100.000 rupiah per hari. "Yaa..kalau hari biasa seperti ini saya cuma dapat 40 ribu sehari, tapi kalau hari libur seperti lebaran bisa sampai 100 ribu", kata bapak berkumis tipis ini sambil tertawa kecil.

Kesulitan menjadi kusir andong tidak sampai di situ. Sangat sulit dan mahal untuk merawat kuda. Dalam sehari Pak Gito harus merogoh kocek sebesar Rp. 20 ribu rupiah untuk membeli katul dan vitamin untuk kudanya. Hal ini harus dilakukannya sebab jika kudanya sampai sakit, suami seorang buruh cuci itu tidak bisa bekerja lagi karena hanya mempunyai seekor kuda. Terlebih lagi jika ada komponen andongnya yang rusak, Pak Gito juga harus mereparasikan andongnya di daerah Ngoto, Bantul. Tentunya juga butuh biaya yang tidak sedikit.

Di tengah kesulitan seperti tersebut di atas, Pak Gito masih beruntung. Pasalnya pria berbadan kurus itu mendapat uang Rp 2 juta setiap tahunnya dari sebuah perusahaan minimarket yang memasang iklan di andongnya. Selain itu Pak Gito kadang mendapat komisi dari sebuah toko bakpia terkemuka di kota ini jika mampu mengantar penumpang ke toko bakpia tersebut. Namun walaupun sudah mendapat itu semua, kakek dari tiga orang cucu ini masih mengharapkan perhatian dari pemerintah kota Yogyakarta yang dianggapnya kurang memperhatikan nasib kusir-kusir andong seperti Pak Gito yang telah melesarikan budaya tradisional Yogyakarta ini.


(Kartiko Wulantomo)