Senin, 11 Januari 2010

CLEINE SPENCER : Penipuan Dunia Online-Shop (berita utama)


Aksi spektakuler diliput hampir tiap minggunya di Trans TV. Bukan di acara Gong atau ajang bakat yang lain. Namun pada acara Reportase yang mencoba mendokumentasikan kegiatan penipuan yang dilakukan beberapa pabrik rumahan, yang dengan mahirnya merancang berbagai macam produk-produk yang secara kasat mata hampir tidak bisa dibedakan dengan produk yang benar-benar aman secara kualitas maupun kegunaan. Semakin canggih dan ada-ada saja memang akal para pelaku di dunia hitam terutama dunia tipu-menipu. Berita penipuan pun sudah bukan sesuatu yang menghebohkan lagi sepertinya bagi sebagian masyarakat. Istilahnya jawanya, sudah jeleh-lah kalau dengar berita semacam itu. Ya memang. Dari penipuan yang ribet dan esklusif ala petinggi-petinggi negri ini dan suatu bank yang masih hangat beritanya di televisi, sampai penipuan kartu togel yang khas aroma masyarakat.

Tidak ada yang bisa menolak kemajuan jaman. Semua serba cepat dan praktis. Internet yang sepuluh tahun lalu masih menjadi barang mewah dan untuk menyentuhnya saja susah, sekarang bahkan sudah ada digenggaman tangan kita. Nah, saya sendiri sempat menggeleng-gelengkan kepala. Ketika mendengar kasus semacam ini masih ada juga di dunia maya. Jangan salah! Dunia maya memang dunia yang paling rentan dengan kasus semacam penipuan. Justru seharusnya masyarakat yang sudah banyak belajar dari pengalaman kian berhati-hati dan sudah kebal dan anti ditipu. Atau mungkin inilah real fact dan efek dari kemajuan jaman.

Selidik punya selidik, ada satu hal yang menggelitik rasa keingintahuan saya ketika mampir dan sedikit berjelajah di forum K.O.S (Komunitas Online Shop) di situs jejaring sosial facebook. Nah, kalau anda baru tahu, ternyata di dunia online shop, atau lebih sering di singkat OS, ada juga selebritinya seperti dunia nyata. Namun, selebriti dalam tanda kutip. Hmmm... saya sendiripun penasaran ketika mendengar nama Cleine Spencer. Nama yang asing, bagi sebagian orang jawa tentu mengejanya saja susah. Tapi seheboh apa sih?

Berawal dari sebuah forum yang dipost kan oleh pemilik account sekaligus OS bernama Kawaii Chix berjudul "OS domisili SURABAY kemana??kok pada ilang" pada tanggal 22 November 2009 lalu, yang awalnya hanya membicarakan masalah ghatering sesama OS yang berdomisili di Surabaya. Namun obrolan-pun meluas hingga membicarakan maraknya kasus penipuan. Dan salah satu OS di forum itu menceletukkan "dispenser" alias menyinggung soal Cleine Spencer. Obrolan semakin panas dan ramai. Ternyata sebelum forum itu dibuat sudah ada forum yang dipost sebelumnya yang membahas tentang artis satu ini.

Bukan main-main. Cleine Spencer diduga sudah banyak melakukan tindakan penipuan atas nama customer yang ingin membeli barang via Facebook online shop dalam jumlah banyak, namun tidak mengirimkan uang sebagai harga barang yang ia beli. Tidak main-main. Para korban sendiri mengaku sudah tertipu jutaan rupiah! Salah satu OS X yang saya wawancarai (tidak ingin diketahui namanya) dan owner bernama Tata (nama samaran) salah satu mahasiswa jogja yang aktif dalam dunia OS, mengaku sudah tertipu sebanyak dua juta lebih.

Kronologisnya, Miss Tata menjual produk pakaian import di OS nya, siang itu seseorang denga memakai nama Cleine Spencer sebagai account facebooknya menghubunginya lewat comment album photo. Cleine tertarik dengan beberapa item baju yang ia jual di sana. Miss Tata pun memberikan nomer handphonenya supaya kegiatan pasca-pembelian lebih mudah, cepat dan praktis. Cleine berbahasa sopan dan baik, diakui Miss Tata waktu itu. Miss Tata sempat merasa kegirangan ketika Cleine deal dengan 13 potong baju yang katanya akan segera ia lunasi pembayarannya. Dengan ramah Miss Tata pun memberikan nomer rekeningnya dan menyampaikan pada Cleine bahwa barang segera dikirim. Selesai sampai siang itu.

Berlanjut keesokan harinya, Cleine mengirimkan SMS kembali kepada Miss Tata bahwa uang sudah ia lunasi dan ditransfer lewat SMS banking. Miss Tata tentu berhati-hati, ia pun meminta bukti transaksi. Tidak begitu lama Cleine pun membalas SMSnya dengan forwadan dari SMS Banking dan minta segera barang dikirim karena salah satu item akan ia pakai pada acara ulang tahun di keesokan harinya. Tanpa curiga Miss Tata pun segera mengirimkan barang dengan niat supaya cepat sampai di tangan Cleine. Masalah muncul setelah itu. Miss Tata yang mengecek rekeningnya kaget setengah mati setelah tahu saldo terakhir tidak berubah sama sekali. Langsung Miss Tata menghubungi Cleine yang waktu itu ia coba lewat telepon. Namun tidak diangkat. Beberapa menit kemudian Cleine mengirimkan SMS yang berbunyi permintaan maafnya tidak bisa mengangkat telepon karena sedang menyetir.

Tanpa berbasa-basi Miss Tata menanyakan soal uang yang belom sampai ke rekeningnya. Cleine bilang bahwa pengiriman uang antar bank yang berbeda memang memakan waktu beberapa hari dan ia juga sering mengalaminya, lalu meminta Miss Tata sabar menunggu dan siap mengirimkan bukti transaksi. Miss Tata lega dan tetap positif thinking pada waktu itu.

Kelanjutannya, tentu anda bisa menebak sendiri. Sampai detik ini pun, uang sebanyak dua juta rupiah lebih itu belum juga kunjung tiba di rekeningnya. Nomer handphone Cleine Spencer tidak bisa dihubungi dan facebooknya pun sudah diblokir dari pihak Cleine. Sungguh disayangkan karena bukan hanya Miss Tata saja yang mengalami kasus penipuan oleh Cleine Spencer. Tapi sudah banyak dan kronologis rata-rata sama. Forum mengenai Cleine Spencer yang terakhir saya baca adalah yang dipostkan oleh owner Mode Amor pada tanggal 9 Desember 2009. Mode Amor di forumnya mengaku sudah tertipu oleh Cleine Spencer. Pada kasusnya memang pihak Cleine belum mentransfer uang seharga barang yang sudah disepakati. Namun pada saat itu Cleine Spencer masih bisa dihubunginya dan bersedia mengembalikan barang yang ia kirimkan. Namun ada beberapa potong yang tidak kembali.


Belum ada tindak lanjut mengenai kasus ini. Saya sendiri sempat meng-add facebook Cleine Spencer yang saya dapatkan linknya dari forum tersebut, dari dan sudah pernah di konfirmasi olehnya. Namun sehari sebelum berita ini saya buat, FB Cleine Spencer sudah tidak bisa saya temukan di friend-list saya.

Mengerikan memang apabila mendengar apapun yang mengenai penipuan. Yang hanya bisa kita tekankan di sini adalah segala bentuk penipuan apa pun itu tentunya bukan hal yang bisa kita hindari dalam kehidupan ini. Perkaya pengetahuan dan cari informasi seluas-luasnya tentang apapun bidang yang akan geluti nantinya, tentu saja didukung oleh kehati-hatian, akal dan pola pikir yang jernih pasti kita pun akan bisa membaca gelagat penipuan.

Roro Dinar K.

(berita utama, berita pendukung d bawah)

153070134



In Depth News - Fenomena Tukang Becak



(Tulisan Utama)
Yogyakarta Kota Sejuta Becak
Becak merupakan alat transportasi non mesin yang banyak sekali ditemukan di Kota Yogyakarta. Kita dapat melihatnya dijalan-jalan kota Yogyakarta. Apalagi di daerah Malioboro dan Alun-Alun Yogyakarta. Fenomena ini memang tidak dapat lepas dari kota Yogyakarta. Kendaraan umum apa yang sering orang lihat di Yogyakarta, pasti dalam benak mereka menjawab becak.
Becak tergolong kendaraan umum yang lumayan murah tetapi kadang banyak pula tukang becak yang mematok harga yang terlampau tinggi, apalagi ketika penumpangnya turis dari mancanegara. Berkeliling dari Malioboro ke Alun-alun Yogyakarta hanya dikenai biaya Rp.15.000.
Untuk menghindari pematokan harga yang terlampau tinggi oleh para tukang becak yang kurang bertanggung jawab ini. Pemerintah Daerah Yogyakarta mendirikan organisasi tukang becak yang ada di Malioboro. Setiap tukang becak diberikan seragam sebagai pembeda mana yang ikut organisasi ini dan mana yang tidak.
Terlepas dari itu semua, pekerjaan sebagai tukang becak memiliki tingkat tantangan yang sangat tinggi. Dikala mereka laku atau mendapat penumpang itu hal wajar akan tetapi jika mereka dalam satu hari tidak mendapat penumpang satu pun ini yang sangat ironis bahkan tragis. Banyak kita lihat tukang becak disudut-sudut jalan yang tidak laku yang menanti seorang penumpang. Ada pula seorang kakek tua yang untuk menggayuh pedalpun seakan tidak kuat, tetapi tetap saja menjadikan becak sebagai penyambung hidupnya. Mereka pun berharap anak-anak mereka tidak menjadi seperti mereka. Itulah yang dikatakan hampir semua tukang becak di Yogyakarta bahkan di Indonesia. Ironinya mahasiswa sekarang malah tidak tahu apa yang dilakukanya, apa tugas utamanya sebagai mahasisiwa. Mereka malah bergelut dengan dunia malam dan hanyut dalam kenikmatan duniawi. Orang tua mereka sudah susah payah memberikan apa yang terbaik buat mereka. Semoga saja dengan fenomena tukang becak yang menggayuh senti demi senti ini mengingatkan kita pada orang tua kita yang mencucurkan keringat demi kebaikan anaknya.


(Tulisan Pendukung)
Suyatno Pengayuh Pedal yang Tak Kenal Lelah

Yogyakarta(9/4), Yatno begitu dia akrab disapa. Bapak dua anak ini yang biasa mangkal di parkiran wisata taman sari ini menggantungkan hidupnya. “Ya, koyo’ ngene mas, sabendino ngenteni turis-turis sing arep muter-muter” begitu katanya kepada saya. Yang artinya ya, kaya gini mas tiap hari nunggu turis-turis yang mau berkeliling. Setiap hari Pak Yatno biasanya bias mengantar rata-rata lima turis. Penghasilannya pun lumayan sekitar Rp.50.000 per hari. Saya pun tambah tercengang ternyata Pak Yatno lumayan bias berbahasa Inggris. “yo, karena sering tawar-tawaran dan nganterin turis-turis itu saya jadi ketularan bule” tandasnya sambil tertawa.

Pria berumur 40 tahun ini sudah menekuni profesinya sejak 10 tahun lalu. Sebelumnya pekerjaanya adalah buruh di Perusahaan garmen. Karena PHK pada krisis moneter di tahun 1998, yang menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya. Kini dia hidup bahagia bersama kedua anaknya yang masih sekolah di SMP dan SD. Walaupun gajinya hanya cukup untuk makan tiap hari dia tetap memperlihatkan raut gembira dimukanya.

Saya pun ditawari untuk berkeliling menaiki becaknya. Disela-sela perjalanan untuk berkeliling dia bercerita hal-hal unik yang pernah dialaminya diantaranya seorang turis yang ingin menjadi pengendara becak dan Pak Yatno sebaliknya menjadi penumpangnya.

Pak Yatno juga memaparkan pendapatnya mengenai pekerjaan tukang becak yang semakin lama semakin meningkat intensitasnya. Mungkin karena lapangan pekerjaan semakin sedikit paparnya. Disela-sela perjalanan hujan deras pun turun, karena tidak tega melihat Pak Yatno yang basah kuyub, kita memutuskan untuk berhenti diemperan toko. Sembari kembali bercerita ngalor-ngidul yang artinya bercerita yang tidak jelas. Laki-laki kekar ini memang sangat enak diajak ngobrol.

Hujan pun reda, saya memutuskan untuk mengakhiri percakapan dan kembali pulang. Sebelumnya saya tidak lupa memberikan uang kepada Pak Yatno, yang kemudian dia tolak. “Ga usah mas, Cuma keliling sini situ aja kok”tandasnya. Masih ada orang semulia ini didunia,gumam saya. Semoga pekerjaan sebagai tukang becak ini tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

By : Aga Mandala Nosya (153070355)






FENOMENA ANDONG DI KOTA GUDEG


Andong merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Yogyakarta dan sekitarnya yang masih eksis dari dulu sampai sekarang. Keberadaan andong sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan ciri khas kebudayaan tersendiri yang kini masih terus dilestarikan. Walaupun sudah banyak kendaraan bermotor yang lebih cepat dan murah, tetapi pengguna Andong di Yogyakarta ini masih cukup banyak. Andong masih mampu hadir untuk memberi sentuhan tersendiri sebagai salah satu kekhasan kota Yogyakarta. Di antara hiruk pikuk dan pesatnya perkembangan kota, ternyata andong pun masih relatif mudah untuk ditemukan. Walaupun, jika dilihat sepintas, tidak banyak andong yang terlihat. Tapi, dimana dulu kita melihat dan mencarinya.


Dari yang Floppynews amati, andong saat ini hanya mengambil rute-rute tertentu. Kebanyakan melalui rute yang berpotensi mendapatkan banyak penumpang. Sebut saja dari arah daerah Kotagede menuju Pasar Beringharjo (daerah Malioboro) dan sebaliknya. Penumpangnya juga sudah semakin spesifik. Ibu-ibu penjual sayur dan barang jualan di pasar cenderung banyak memilih andong sebagai alternatif transportasi. Mungkin salah satu pertimbangan antara lain karena andong ‘lebih bisa muat banyak’? Atau, apakah karena bagi mereka, bus dirasa kurang nyaman? Bisa jadi. Lalu, di manakah kita bisa menemukan andong dengan mudah? Bagaimana persebaran lokasi parkir andong di Yogyakarta? Beberapa tempat dari pengamatan Floppynews:

1. Kawasan Malioboro — Ya, dikawasan ini andong cukup mudah ditemui. Andong banyak dijumpai di lajur kanan jalan Malioboro. Jalur ini dikhususkan untuk kendaraan tidak bermotor. Banyak andong yang mangkal ditempat tersebut. Di sini, wisatawan mungkin merupakan salah satu potensi pengguna jasa andong.

2. Parkir pasar Beringharjo — Lokasinya di sebelah sisi timur dan selatan bangunan utama pasar. Di sini, para mbok-mbok pasar banyak menggunakan jasa. Selain itu, masyarakat yang berbelanja di pasar juga Floppynews lihat banyak memanfaatkan jasa andong ini.

3. Sisi barat alun-alun utara — Tepatnya di sebelah barat pintu masuk Kraton Yogyakarta. Di sini ada tempat parkir andong.

4. Sisi timur Pasar Ngasem — Dari arah pasar Ngasem, berada di sisi timur. Beberapa andong dan becak sering ditemukan parkir di tempat ini.

5. Sekitar Pasar Kotagede

Selain di titik-titik tersebut, jika Anda beruntung Anda bisa juga menemukan andong yang mangkal di pinggir jalan, misalnya di Pojok Beteng Wetan (Timur).

Pak Martoyo, kusir andong yang mangkal di timur Pasar Ngasem berharap agar andong terus dijaga keberadaannya. "Ya..Saya cuma pengen Andong ini tetap ada di Jogja sampai kapan pun, soalnya selain untuk menafkahi keluarga saya, andong kan juga merupakan salah satu simbol kota Jogja." Kata lelaki 64 tahun itu sambil tertawa.



Dimas, salah seorang wisatawan asal Jakarta yang baru saja naik andong menceritakan pengalamannya naik alat transportasi tersebut. "Tadi saya dan seorang kawan memutuskan mencoba andong. Setelah memarkir sepeda motor tak jauh dari pusat perbelanjaan terbesar di Malioboro, kami mendekati sebuah andong. Andong memang mudah dicari di kawasan ini. Hukum ekonomi berjalan, tawar-menawar pun usai. Bagi kami para wisatawan, tarif Rp 25.000 itu cukup mahal karena hanya melintasi Jalan Malioboro-Keraton- Kampung Kauman-Pathuk-dan Pasar Kembang.
Saat kusir yang mengenakan surjan biru dan belangkon hitam itu mulai mendecakkan lidah, kemudian tangannya menghela tali kekang kuda, dimulailah perjalanannya. Sepatu kuda bersuara "plok-plok-plok..." karena beradu dengan aspal, bisa mengalahkan bisingnya deru mesin kendaraan bermotor. Sesekali terdengar bunyi "kleng-klong..." dari sebuah bel berbahan kuningan".

Perjalanan naik andong diiringi dengan kegiatan "cuci mata". Kereta yang berjalan lambat memudahkan Dimas dan kawannya untuk mengamati bangunan lama peninggalan Belanda seperti Istana Presiden, Benteng Vredeburg, dan Kantor Pos Besar yang dulunya merupakan gedung administrasi pemerintahan Belanda. Melewati perempatan Kantor Pos Besar terlihat lagi bangunan Keraton dan Alun-alun. Perjalanan ke sana seakan melewati lorong untuk menuju istana. Dari Alun-alun, andong berbelok ke kanan menuju kawasan perkulakan pakaian di Kampung Kauman dan bakpia di Pathuk.

Persepsi mata semacam ini sulit didapat saat membonceng atau mengendarai "kereta bermesin" karena lalu lintas memaksa kita untuk berpacu kalau tidak ingin dicaci maki pengguna jalan lainnya. Perjalanan menggunakan andong ini juga mengajarkan falsafah Jawa "alon-alon waton kelakon", kesabaran untuk mencapai tujuan. Rute yang biasanya bisa ditempuh 15 menit dengan sepeda motor akhirnya menghabiskan waktu hingga 45 menit.

Naik andong bagaikan raja Keraton Yogyakarta dulu yang menggunakan kereta kuda mengelilingi wilayahnya. Hingga masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, andong memang menjadi sarana transportasi khusus warga keraton. Tidak seorang pun berani meniru membuat kereta, apalagi menggunakannya.


Kehidupan Sang Kusir Andong (Pendukung)

Gito Suryo Pranoto atau yang biasa disapa Pak Gito sudah menghabiskan 44 tahun hidupnya sebagai seorang kusir andong untuk menghidupi keluarganya. Dari jam sembilan pagi hingga jam empat sore, pria beranak dua itu menanti calon penumpang yang semakin sedikit jumlahnya dari tahun ke tahun. Menurutnya hal ini disebabkan oleh makin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di kota Yogyakarta ini, tidak seperti dahulu waktu kendaraan bermotor masih ibarat barang mewah, andong Pak Gito masih banyak diminati masyarakat. Oleh karena itu Pak Gito sekarang hanya mangkal di kawasan Malioboro. Padahal dahulu pria yang setia memakai blangkon ini juga sempat mangkal di terminal Umbulharjo ataupun stasiun Lempuyangan. "Sekarang jaman sudah maju, banyak kendaraan bermotor di mana-mana, jadi saya lebih milih di sini terus saja", ujarnya sambil menghisap rokok,

Menurutnya banyak sekali tantangan menjadi kusir andong. Pagi-pagi sekali pria bertempat tinggal di Kota Bantul ini harus bangun untuk menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari memberi makan sampai memandikan kuda. Perjalanan dari rumah Pak Gito sampai Malioboro membutuhkan waktu sekitar dua jam. Sesampai di sana pria berumur 65 tahun kebanyakan hanya menghabiskan waktu untuk duduk di andongnya sambil menghisap rokok. Jarang sekali masyarakat yang mau naik andongnya. Rata-rata pria murah senyum ini hanya mendapat dua penumpang dalam sehari. Akibatnya penghasilan Pak Gito sehari rata-rata hanya Rp. 40.000 rupiah. Namun untuk hari libur bisa mencapai Rp. 100.000 rupiah per hari. "Yaa..kalau hari biasa seperti ini saya cuma dapat 40 ribu sehari, tapi kalau hari libur seperti lebaran bisa sampai 100 ribu", kata bapak berkumis tipis ini sambil tertawa kecil.

Kesulitan menjadi kusir andong tidak sampai di situ. Sangat sulit dan mahal untuk merawat kuda. Dalam sehari Pak Gito harus merogoh kocek sebesar Rp. 20 ribu rupiah untuk membeli katul dan vitamin untuk kudanya. Hal ini harus dilakukannya sebab jika kudanya sampai sakit, suami seorang buruh cuci itu tidak bisa bekerja lagi karena hanya mempunyai seekor kuda. Terlebih lagi jika ada komponen andongnya yang rusak, Pak Gito juga harus mereparasikan andongnya di daerah Ngoto, Bantul. Tentunya juga butuh biaya yang tidak sedikit.

Di tengah kesulitan seperti tersebut di atas, Pak Gito masih beruntung. Pasalnya pria berbadan kurus itu mendapat uang Rp 2 juta setiap tahunnya dari sebuah perusahaan minimarket yang memasang iklan di andongnya. Selain itu Pak Gito kadang mendapat komisi dari sebuah toko bakpia terkemuka di kota ini jika mampu mengantar penumpang ke toko bakpia tersebut. Namun walaupun sudah mendapat itu semua, kakek dari tiga orang cucu ini masih mengharapkan perhatian dari pemerintah kota Yogyakarta yang dianggapnya kurang memperhatikan nasib kusir-kusir andong seperti Pak Gito yang telah melesarikan budaya tradisional Yogyakarta ini.

Kartiko Wulantomo (153070313)